Thursday, January 11, 2007

Ge(g)ology



Dari semacam lecturer tentang ilmu bumi, langsung dari ahlinya, bangsa kumpeni, begitu….
Saya mendapat pencerahan yang suram, kalau diibaratkan umur bumi itu 1 hari 1 malam, maka manusia cuma baru nongol pada 1 menit terakhir dari sekarang (zone tertier)….bayangkan, 1 menit saja sudah rusak begini dunia, palagi kalo manusia dikasi waktu dari 1 jam yang lalu??
So kupikir akhirnya umur spesies kita di bumi Cuma sampae 1 menit ke depan…cepat bertobat kawan…
Wah-wah … kepikiran saya…. Tuhan ternyata mempersiapkan penciptaan kita lama juga ya, masa kita sia2kan waktu yg cuma semenit dari 24 jam itu dgn saling menyakiti, mengunek2no, ato membunuh sesama??
Kok kaya Aa' Gim begini saya…wah berarti ini harus diakhiri dgn poligami….

Friday, November 03, 2006

mine are everywhere

One day Caesar said, "Even You, Brutus..?"

But the blood had been spilled...

FUBAR

"Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people."
(Karl Marx)
--but people hear nothing but misquoted, su*k!

Wednesday, October 11, 2006

5:34 PM

sekian dan terimakasih
kami bisa buka di kantor

5:28 PM

xylene free..&(^^$#^%*&(&^$#@!!

5:27 PM

duapuluhmenitlagibukadanorangmasihberunjukrasadibawahsana
orangkirakamikerjadiperusahaanamerikasamaartinyajadianjingmereka
orangkirakamiberjayadiatastanahkedukanprasastisangkuriangdandayangsumbi
sambilmentertawakanmerekayangtakjugamampubelicelanamenjelanglebarannanti
andamauuangbegitupulakaminamunyangmenjadimasalahadalahketikauangituadadalamsatubelanga
jikaduniaterlalusempitbuatkitaberduamarikitacobaduluberbagiratasebelumadakeluargayangberduka

5:22 PM

aku sampai (hampir) berketombe menunggu sms darimu

5:19 PM

mungkin yang jadi pertanyaan setiap orang adalah,
"kalau tempat sudah terlalu sempit, siapa di antara kita yang harus (di) keluar(kan)".

Sunday, July 30, 2006

Times Like These


I am a one way motorway
I'm the one that drives away
then follows you back home
I am a street light shining
I'm a wild light blinding bright
burning off alone

it's times like these you learn to live again
it's times like these you give and give again
it's times like these you learn to love again
it's times like these time and time again

Fav Singer No. 1


Kurt Erik Nilsen ( September 29, 1978 in Bergen, Norway), won the Norwegian version of the television show Pop Idol, aired on TV 2 in May 2003. He won with 53 % of the votes against Gaute Ormåsen. His subsequent single, "She's So High", written by Tal Bachman, went straight to number one in the Norwegian singles chart and is among the biggest-selling singles in Norway to date. His debut album was I.

He subsequently won the vote for the World Idol title on January 1, 2004, singing the hit "Beautiful Day" by U2, beating competitors from ten other nations, including favourite Kelly Clarkson from the United States, and scoring the first place in 10 out of 11 voting countries. In the show presenting the entries on December 25, Ian Dickson, the Australian judge, said: "You have the voice of an angel, but you look like a Hobbit. If this were Middle-earth Idol you'd walk it." Kurt's gap-toothedness did not seem to bother the viewers and voters, though.

His second CD, A Part Of Me, released in 2004, contains only his own material.

In January 2005, he broke up with his fiance, Kristine Jacobsen. They had been together for 11 years, and had two children together: Marte (born 1996) and Erik (born 2000). He and his new girlfriend, Kristin Halvorsen (not to be confused with the Norwegian Minister of Finance), welcomed their first son, Lukas, on January 20, 2006. Nilsen and Kristin later married on July 29, 2006.

Kurt Nilsen is one of only seven contestants in the Idol (Norway) history who succeeded in staying out of “bottom three/two” places in weekly votes along with Gaute Ormåsen (season 1), Susanne Nordbøe (season 2), Jorun Stiansen (season 3), Alejandro Fuentes (season 3), Tone Damli Aaberge (season 3) and Jonas Thomassen (season 4).

Of them, Nilsen and Stiansen went on to win the competition.

From Wikipedia, the free encyclopedia


Thursday, July 06, 2006

Benarkah Wimar Witoelar dan Kim Jong -Il Bersaudara?

Sebenarnya nama Taepodong itu memiliki arti historis yang besar buat saya dan Mas Wimar. Dulu kami berdua sering naek pohon kedondong saat masih kecil, begitulah nama itu bermula...
Alah...itu bisa-bisanya si Kim Kampret aja...jangan terlalu dipercaya!

North Korea..

North Korea has three or four more missiles on launch pads and ready for firing, major South Korean newspapers reported Thursday (July 6, 2006) . The missiles are either short- or medium-range, reported Chosun Ilbo, one of South Korea's largest dailies. It cited an unidentified senior South Korean official.
Another major paper, JoongAng Ilbo, carried a similar report.
The North has also barred people from sailing into some areas off the coast until July 11 in a possible sign of preparations for additional launches, Chosun Ilbo said.

North Korea test-fired seven missiles on Wednesday, triggering international condemnation. The missiles apparently fell into the sea without causing damage or injuries.

North Korea has completed preparations for a Taepodong-2 missile test-launch, which has an estimated range of 6,700km [4,100 miles]. If the North in fact test-fired an intercontinental ballistic missile capable of striking the U.S. mainland, it would put an immediate strain on security on the Korean Peninsula.

Saturday, June 24, 2006

Pulang


Pulang
dalam awan pada jalan
keremangan jalan pikiran
titik-titik kampung halaman
dan sebelum aku benar-benar pergi
aku pulang buat terakhir kali
...
Aku
anak panah
yang terpelanting dari busurnya
---

Friday, June 23, 2006

Say something nice

Y: Say I can handle it.
M: You can handle it.
Y : Say something nice.
M: Something nice.
Y: Are we negotiating?
M: Always...

vanity

Dari Sebuah Pertandingan Piala Dunia


Dalam sebuah pertandingan di Piala Dunia, sepak pojok siap dilakukan oleh pemain Spanyol. Pemain-pemain Tunisia memenuhi kotak. Posisi: Spanyol 2 Tunisia 1. Penonton bersorak, penonton terdiam, penonton berdoa.

Orang-orang Tunisia mengangkat kedua tangan. Para pendukung Spanyol membuat tanda salib di dada. Mereka meminta pertolongan Tuhan demi sebuah permainan sepakbola. Mereka memohon pada Tuhan untuk hal yang berlawanan. Mereka minta apa yang mereka mau. Mereka masukkan Tuhan Yang Satu ke kantong baju masing-masing.

Berapa jumlah dari mereka yang meminta kemenangan? Hampir semua saya kira. Kita begitu sering meminta pada-Nya sesuatu demi kemenangan kita, dalam setiap kompetisi, dalam persaingan-persaingan, judi dan perlombaan. Bukankah kemenangan kita berarti kekalahan orang lain? Bukankah orang-orang lain bisa saja memanjatkan doa yang sama? Apakah ini bukan berarti kita sudah mengempit Tuhan di antara jari-jari, dan Tuhan kita bukanlah Tuhan orang lain, Tuhan kita masing-masing adalah Tuhan pribadi?

Saat kita membuat ‘permintaan’ menjadi sebuah ‘keberpihakan’, kita hitung-hitung kemana Tuhan bakal berpihak. Kita hanya tahu soal kemenangan, tidak ada jalan keluar yang lain. Dan saat kita gagal, kita bertanya-bertanya, ‘mengapa masalah sesepele ini saja Dia tidak mengerti? Bukankah hidup saya sudah begitu menderita, namun Engkau tak juga mau memberi sedikit bahagia? ‘. Kita bukan bertanya. Kita protes…

-bahkan kepada Tuhan kita egois.

Bukankah lebih baik mereka memanjatkan doa kepada Yang Kuasa dengan, “Ya Tuhan, berikanlah aku ketegaran saat harus menerima kekalahan..”. "Ya Allah luruskan hatiku, imanku, penghambaanku kepada-Mu dalam setiap cobaan, dalam setiap kesedihan, dalam setiap kebahagiaan..".

Saat kemenangan kita berarti kekalahan orang.

Saat kebahagiaan kita berarti kedukaan pihak lain.

Saat kita begitu takut kalah dan begitu ingin menang.

Saat kita letakkan Tuhan di kalung-kalung, kemudian kita adu dengan kalung-kalung orang, dan kita menunggu-nunggu siapa yang akan dikalahkan.

Saat kita jadikan Tuhan sebagai ‘pembantu’ dalam pemenuhan nafsu-nafsu pengakuan.

Maka semua adalah jalan buntu….


Menit sembilah puluh lebih, peluit ditiup. Pertandingan usai.

Spanyol unggul, 3 melawan 1..

Tuhan, ampuni keserakahan kami….

Wednesday, June 21, 2006

at the end......

we must follow others...even though jobless isn't a crime...?

Monday, June 19, 2006

Semrawut


Semua bilang arus sumbangan korban bencana alam semrawut. Manajemen mitigasi dan peringatan dini semrawut. Masalah informasi dan penjelasan pemerintah tentang gempa, Merapi, dan korban-korban juga dikatakan semrawut. Semua menyebut kata semrawut, seolah hidup di negara ini bukanlah sesuatu yang diwarnai kesemrawutan. Semua berkomentar :semrawut, seolah urusan individu-individu tsb sudah teratur, teregulasi secara taken for granted sejak orang2 itu lahir dan nongol di bumi. Mantan presiden KM UGM Nur Hidayat pernah berbicara dengan saya suatu kali, dia bilang kalau sekarang orang2 lebih suka (punya kecenderungan) berpikir -dengan meminjam bahasanya- "apatis yang berbasis a priori". Bahwa hidup di negara ini susah, segala sesuatu sudah semrawut, sejak mengurus surat nikah, acara pernikahan, surat cerai, urusan imunisasi di posyandu atau Puskesmas, masalah pajak, masalah gaji yg kena sunat terus, masalah hiburan di TV yg mengkhawatirkan, masalah inflasi dan kenaikan harga susu dan sayuran, masalah angkutan umum yang penuh calo dengan tarif g pernah beres, tabrakan kereta dan pesawat yg berjatuhan seperti mangga busuk, urusan buat SIM dan perpenjangan STNK, tilang-menilang, urusan uang sekolah anak2 yang mahal, ormas-ormas yang lebih parah dari maling, masalah ASKES dan manajemen kesehatan, sampai-sampai orang mati kesulitan buat surat keterangan wafat..praktis, dari lahir sampai almarhum rakyat di negeri ini terikat-terjalin-terpelintir-terjerat-carut marut kesemrawutan. Sehingga apa kemudian yang lahir di benak2 mereka? Tidak lain bahwa: semua hal yang berkaitan dengan pemegang otoritas negara ini pasti akan menimbulkan kesemrawutan. Tidak ada manajemen yang tidak semrawut. Hasilnya, jangankan mengurus korban bencana beribu-ribu jiwa, andaikata pemerintah bermaksud membuat 1 biji tong sampah pun, tidak ada yang tidak bakal berkomentar. Secara mental, terdapat dislokasi dan kesenjangan yang dilebih-lebihkan antara realita dan idealita oleh manusia2, bahkan mungkin saking a priorinya, kenyataan menjadi sama sekali tidak penting, dan komentar tentu saja no 1. Saya yakin, mayoritas orang2 yang berpenyakit komentar tsb tidak pernah menyaksikan (bahkan mungkin tidak mau tahu) kejadian apa sebenarnya yg ada di Bantul atau Klaten. Kesengsaraan korban, kelelahan relawan, kejenuhan tim medis, pusingnya tentara dan pemerintah wilayah, bingungnya menteri-menteri dan SBY. Bukankah kalau rumah anda kotor dan anda melihat rumah orang lain tampak lebih kotor, maka anda akan jadi lebih bahagia, apalagi kalau bisa komentar sana-sini.
Saya pikir, kalau semua sudah pernah merasakan bahwa hidup memang semrawut, maka berhentilah berkomentar. Tak ada yang bisa diperbaiki dengan itu.
Semasih kita punya lebih banyak waktu untuk berleha-leha dibandingkan keinginan membantu mereka, maka tak ada pentingnya komentar...
Semasih kita lebih sayang pada harta kita dibanding nyawa atau nasib sesama, maka tidak perlu berkomentar...
Semasih Bapak-bapak hoby korupsi di ruang2 ber-AC, berhentilah berkomentar...
Semasih anda berniat untuk langsung mencuci tangan setelah bersalaman dengan para korban, berhentilah berkomentar...
Semasih Mbak2 artis langsung ke hotel,spa, dan salon setelah berlagak meninjau lokasi bencana, masukkan kembali komentar itu ke pantat masing-masing...
Semasih kita cuma bisa ngomong tetapi tak pernah mau berpikir bagaimana menyelesaikan, maka lebih baik kita diam...
Semasih saudara tidak perduli dengan nasib korban2 yang berencana bunuh diri, lebih baik saudara makan sendiri komentar2 itu...
Dan suatu hari, seorang ibu tua dengan pandangan menerawang melihat dinding2 yang tersisa, berkata, "mereka, orang2 kaya itu datang, melihat-lihat, memberi sedikit uang, sambil berdiri di atas sepatu2 mahal mereka menginjak-injak tikar alas tidur kami.."
Semrawut? Siapa sebenarnya yang semrawut....

Dear Lia Aminuddin

So..where is your Jibril?

what did they say bout d'quake??



  • "KEGIATAN GUNUNG MERAPI", (Komisi Tektonik PP-IAGI)
  • "GERAKAN LEMPENG BUMI DI LAUT SELATAN YOGJA", (BMG)
  • "GERAKAN PATAHAN LAPISAN BUMI YANG MEMANJANG DARI BANTUL SAMPAI KLATEN ", (BG-ESDM)
  • "efek kemarahan Ratu Kidul", (Ki Joko Bodo)
  • "Ratu Kidul ngamuk, karena yang pro RUU APP semakin ganas, dan Ratu Kidul ngggak boleh pake kemben lagi..", (Permadi)
  • "Gempa Yogya bukanlah hukuman buat orang yogya atau Jateng, melainkan teguran Allah untuk seluruh rakyat Indonesia. Ketika seluruh rakyat Indonesia tidak ada satupun yang memiliki keberanian untuk menegur Gusdur atas pernyataannya yang sudah keterlaluan itu dalam menghina Al Quran", (maillist [islamkristen] Re: Kejadian sebenarnya mengenai "pengusiran" gusdur-mbah_dukunn)
  • "itu ibarat timbangan yang berat sebelah, sehingga poros itu bergoyang-goyang. Agar seimbang, kuncinya ada pada keraton karena berada persis di tengahnya. Dalam konteks kekinian, keraton bisa diibaratkan pemerintah Indonesia. Poros laut selatan-kraton-Merapi ibarat timbangan, layaknya simbol dunia peradilan sekarang. Betapa sengsaranya rakyat lantaran hukum belum ditegakkan semestinya di negeri ini. Satu contoh penanganan hukum kasus korupsi yang masih timpang.", (Damardjati)
  • "Kata orang-orang tua, ada gempa karena Nyi Roro Kidul melintas, beredar cerita Sang Ratu akan menikahkan putrinya. Menantunya dikabarkan berasal dari Gunung Merapi", (Wawan - mhs PTS Yogya)
  • "Gempa Yogya dan Aktivitas Gunung Merapi adalah murka Tuhan atas ditolaknya eksepsi Lia Aminuddin oleh JPU..", (Risalah Ruhul Kudus Komunitas Eden 12/6 2006)
  • "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." [An Nahl:16]
  • "Gempa Yogya? rugi deh ga ngerasain...", (Pandegers 50)