Saturday, February 11, 2006

PALESTINIAN-ISRAEL FACTS



ISRAEL FACTS
Population: 6.7 million (UN, 2005)
Seat of government: Jerusalem, though most foreign embassies are in Tel Aviv
Area: Israeli Central Bureau of Statistics cites 22,072 sq km (8,522 sq miles), including Jerusalem and Golan
Major languages: Hebrew, Arabic
Major religions: Judaism, Islam
Life expectancy: 77 years (men), 82 years (women) (UN)
Monetary unit: 1 new Israeli shekel (NIS) = 100 new agorot
Main exports: Computer software, military equipment, chemicals, agricultural products
GNI per capita: US $17,380 (World Bank, 2005)
Internet domain: .il
International dialling code: +972


PALESTINIAN FACTS
Population: 3.8 million (UN, 2005)
Intended seat of government: East Jerusalem
Area: Palestinian Ministry of Information cites 5,970 sq km (2,305 sq miles) for West Bank territories and 365 sq km (141 sq miles) for Gaza
Major language: Arabic
Major religion: Islam
Life expectancy: 71 years (men), 74 years (women) (UN)
Monetary unit: 1 Jordan dinar = 1,000 fils, 1 new Israeli shekel (NIS) = 100 new agorot
Main exports: Citrus
GNI per capita: US $1,120 (World Bank, 2005)
Internet domain: .ps
International dialling code: +970

Thursday, February 02, 2006

Tentang Exxon dan Cepu



Oleh: Kwik Kian Gie

Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah itu sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain seperti itu.

Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule. Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar dibanding kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada eksplorasi dan eksploitasi perusahaan-perusahaan asing.

Apa pekerjaan dan sampai seberapa jauh daya pikir para pengelola ekonomi kita sejak merdeka sampai sekarang? Istana Bung Karno dibanjiri para kontraktor minyak asing yang sangat berkeinginan mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia. Bung Karno menugaskan Chairul Saleh supaya mengizinkannya hanya sangat terbatas.

Putrinya, Megawati, bertanya kepada ayahnya, mengapa begitu? Jawaban Bung Karno kepada putrinya yang baru berumur 16 tahun, "Nanti kita kerjakan sendiri semuanya kalau kita sudah cukup mempunyai insinyur-insinyur sendiri."

Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak oleh putra-putri bangsa Indonesia sendiri. Mengapa sekarang hanya sekitar 8 persen?

Lebih menyedihkan ialah keputusan pemerintah memperpanjang kerja sama dengan Exxon Mobil (Exxon) untuk blok Cepu selama 20 tahun sampai 2030. Begini ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy Soeharto untuk mengambil minyak dari sebuah sumur di Cepu yang kecil. Exxon lalu melakukan eksplorasi tanpa izin. Ternyata ditemukan cadangan dalam sumur yang sama sebanyak 600 juta barel.

Ketika itu Exxon mengajukan usul untuk memperpanjang kontraknya sampai 2030. Keputusan ada di tangan Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP). Dua dari lima anggota menolak. Yang satu menolak atas pertimbangan yuridis teknis. Yang lain atas pertimbangan sangat prinsipil.

Dia sama sekali tidak mau diajak berargumentasi dan juga sama sekali tidak mau melihat angka-angka yang disodorkan Exxon beserta para kroninya yang berbangsa Indonesia.

Mengapa? Karena yang menjadi pertimbangan pokoknya, harus dieksploitasi bangsa Indonesia sendiri, yang berarti bahwa Exxon pada 2010 harus hengkang, titik. Alasannya sangat mendasar, tetapi formulasinya sederhana. Yaitu, bangsa yang 60 tahun merdeka selayaknya, semestinya, dan seyogianya mengerjakan sendiri eksplorasi dan eksploitasi minyaknya. Bahkan, harus melakukannya di mana saja di dunia yang dianggap mempunyai kemungkinan berhasil.

Menurut peraturan yang berlaku (sebelum Pertamina berubah menjadi Persero), kalau DKPP tidak bisa mengambil keputusan yang bulat, keputusan beralih ke tangan presiden. Maka, bola ada di tangan Presiden Megawati Soekarnoputri. Beliau tidak mengambil keputusan, sehingga Exxon kalang kabut. Exxon mengirimkan executive vice president-nya yang langsung mendatangi satu anggota DKPP yang mengatakan "pokoknya tidak".

Dia mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu orang anggota DKPP ini yang berinisial KKG, tetapi dilarang kolega-koleganya sendiri. KKG tersenyum sambil mengatakan karena para koleganya masih terjangkit mental inlander.

Lalu dia berargumentasi panjang lebar dengan mengemukakan semua angka betapa Indonesia diuntungkan. KKG menjawab bahwa kalau dia ngotot sampai seperti itu, apa lagi latar belakangnya kalau dia tidak memperoleh untung besar dari perpanjangan kontrak sampai 2030? Karena itu, kalau mulai 2010, sesuai kontrak, Exxon harus hengkang dan seluruhnya dikerjakan Pertamina, semua laba yang tadinya jatuh ke tangan Exxon akan jatuh ke tangan Indonesia sendiri.

Lagi pula, KKG menjelaskan bahwa sudah waktunya belajar menjadi perusahaan minyak dunia seperti Exxon. KKG bertanya kepadanya, "Bukankah kami berhak mulai merintis supaya menjadi Anda di bumi kita sendiri dan menggunakan minyak yang ada di dalam perut bumi kita sendiri?"

Eh, dia mulai mengatakan tidak bisa mengerti bagaimana orang berpendidikan Barat bisa sampai seperti itu tidak rasionalnya! Jelas KKG muntap dan mulai memberi kuliah panjang lebar bahwa orang Barat sangat memahami dan menghayati tentang apa yang dikatakan EQ, dan bukan hanya IQ. Apalagi, kalau dalam hal blok Cepu ini ditinjau dengan IQ juga mengatakan bahwa mulai 2010 harus dieksploitasi oleh Indonesia sendiri.

Bung Karno juga berpendidikan Barat dan sejak awal beliau mengatakan, "Man does not live by bread alone." Dalam hal blok Cepu, dua argumen berlaku, yaitu man does not live by bread alone, dan diukur dengan bread juga menguntungkan Indonesia, karena laba yang akan jatuh ke tangan Exxon menjadi labanya Pertamina.

Pikiran lebih mendalam dan bahkan dengan perspektif jangka panjang yang didasarkan materi juga mengatakan bahwa sebaiknya blok Cepu dieksploitasi oleh Pertamina sendiri. Mengapa?

Jawabannya diberikan oleh mantan Direktur Utama Pertamina Baihaki Hakim kepada Menko Ekuin ketika itu bahwa Pertamina adalah organisasi yang telanjur sangat besar. Minyak adalah komoditas yang tidak dapat diperbarui. Penduduk Indonesia bertambah terus seiring dengan bertambahnya konsumsi.

Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi nasional sudah lebih besar daripada produksi nasional, di masa mendatang kesenjangan ini menjadi semakin besar, dan akhirnya organisasi Pertamina yang demikian besar itu akan dijadikan apa?

Apakah hanya menjadi perusahaan dagang minyak, dan apakah akan mampu berdagang saja dalam skala dunia, bersaing dengan the seven sisters? Maka visi jangka panjang Baihaki Hakim, mumpung masih lumayan cadangannya, sejak sekarang mulai go international dan menggunakan cadangan minyak yang ada untuk sepenuhnya menunjang kebijakannya yang visiuner itu.

Menko Ekuin ketika itu memberikan dukungan sambil mengatakan, "Pak Baihaki, saya mendukung sepenuhnya. Syarat mutlaknya ialah kalau Anda ingin menjadikan Pertamina menjadi world class company, Anda harus juga memberikan world class salary kepada anak buah Anda."

Sang Menko Ekuin keluar dari kabinet Abdurrahman Wahid. Setelah itu dia kembali ke kabinet sebagai kepala Bappenas dan ex officio menjabat anggota DKPP. Maka pikirannya masih dilekati visi jangka panjangnya Pak Baihaki Hakim dan kebetulan direktur utama Pertamina ketika itu juga masih Pak Baihaki Hakim. Tetapi, kedudukan kita berdua sudah sangat lemah, karena dikreoyok para anggota DKPP dan anggota direksi lain yang mental, moral, dan cara berpikirnya sudah kembali menjadi inlander.

Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan telah berpengalaman 13 tahun menjabat direktur utama Caltex Indonesia langsung dipecat begitu Pertamina menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir, dia adalah sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz. Sedangkan yang diperlukan buat Pertamina adalah sopir yang cocok untuk truk yang bobrok. Bayangkan, betapa inlander cara berpikirnya. Pertamina diibaratkan truk bobrok. Caltex adalah Mercedez Benz. Memang sudah edan semua.

Ada tekanan luar biasa besar dari pemerintah Amerika Serikat di samping dari Exxon. Ceritanya begini. Dubes AS ketika itu, Ralph Boyce, sudah membuat janji melakukan kunjungan kehormatan kepada kepala Bappenas, karena protokolnya begitu. Tetapi, ketika sang Dubes tersebut mendengarkan pidato sang kepala Bappenas di Pre-CGI meeting yang sikap, isinya pidato, dan nadanya bukan seorang inlander, janjinya dibatalkan.

Eh, mendadak dia minta bertemu kepala Bappenas. Dia membuka pembicaraan dengan mengatakan akan berbicara tentang Exxon. Kepala Bappenas dalam kapasitasnya selaku anggota DKPP mengatakan bahwa segala sesuatunya telah dikemukakan kepada executive vice president-nya Exxon, dan dipersilakan berbicara saja dengan beliau.

Sang Dubes mengatakan sudah mendengar semuanya, tetapi dia hanya melakukan tugasnya. "I am just doing my job". Kepala Bappenas mengatakan lagi, "Teruskan saja kepada pemerintah Anda di Washington semua argumen penolakan saya yang diukur dengan ukuran apa pun, termasuk semua akal sehat orang-orang Amerika pasti dapat diterima."

Kepala Bappenas keluar lagi dari kabinet karena adanya pemerintahan baru, yaitu Kabinet Indonesia Bersatu, dan Exxon menang mutlak. Ladang minyak di blok Cepu yang konon cadangannya bukan 600 juta barrel, tetapi 2 miliar barrel, oleh para inlander diserahkan kepada Exxon penggarapannya.

Saya terus berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan, "Bung Karno yang saya cintai dan sangat saya hormati. Janganlah gundah dan gelisah, walaupun Bapak sangat gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya juga sudah bermeditasi di salah satu vihara untuk menenangkan hati dan batin saya. Satu hari nanti rakyat akan bangkit dan melakukan revolusi lagi seperti yang pernah Bapak pimpin, kalau para cecunguk ini sudah dianggap terlampau lama dan terlampau mengkhianati rakyatnya sendiri."

*) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas.
Sumber:http://www.jawapos.co.id/
Senin, 19 Sept 2005

Sopranino


Dulu pernah hidup seorang anak bernama Sopranino.
Seperti kebanyakan anak-anak muda lain di zaman Little Missy dan Tuan Baron, dia bekerja di rumah seorang tuan tanah yang punya berhektar lahan dan ratusan ternak. Dia bukan negro, dia seorang Argentina dan bekerja di sebuah distrik kecil selatan Buenos Aires.

Orang-orang mengenalnya sebagai Sopranino yang Bodoh, dia selalu teledor akan segala sesuatu. Pagi hari, dia sudah diharuskan bangun sebelum subuh untuk mengisi tandon air dengan menghidupkan pompa (tetapi dia selalu lupa mematikannya), setelah itu dia harus menyiapkan hasil kebun untuk dimasukkan ke truk bak, membuka pagar agar truk cepat berangkat dan secepatnya menutup kembali pagar kayu itu, sebab kalau tidak ternak-ternak akan ikut keluar (tetapi dia selalu lupa menutup kembali), berlarian menyerbu jemuran dan menginjak kain-kain (dan awalnya ini lah yang selalu terjadi). Setelah semua beres (??) dia akan dipanggil si koki di dapur untuk menyiapkan alat-alat, membersihkan, lalu menyimpan setelah selesai dipakai (tetapi dia selalu meletakkan alat-alat ditempat yang salah).

Yah, awalnya semua orang ribut karenanya, Pedro yang bertugas menyapu halaman selalu marah melihat air yang terbuang-buang percuma jatuh dari tandon bagai air terjun, Perez sang supir selalu berteriak-teriak menyalahkan Sopranino yang lupa menutup pintu, Maria Mercedes si tukang cuci tak henti-hentinya mengomel melihat jemurannya kotor lagi terinjak kaki kambing2 dan sapi2, Si Koki Hector mengumpat-ngumpat tak jelas saat harus mencari pisau-wajan-sutil di dapur.

Lama kelamaan semua orang terbiasa dengan Sopranino, Perez tidak pernah menyuruh Sopranino membuka pintu, sebab dia tahu pintu sudah terbuka saat dia harus berangkat subuh-subuh, Pedro tidak pernah mengomel lagi melihat air terjun dari tandon, malah dia sudah menyiapkan sabun dan berdiri tepat di bawah galonan air untuk mandi seperti di pancuran, Maria Mercedez selalu mencuci dan menjemur baju2 saat merasa ternak2 sudah keluar semua, Hector sudah tau kalau wajan akan dia temukan di tempat sapu, pisau di dekat tempat menyimpan telor, dan sutil di langit-langit...semua menjadi normal untuk berbulan-bulan...dan memang semakin terkenal lah dia sebagai Sopranino yang Bodoh.

Suatu hari saat memanggul batang kayu untuk dibawa ke dapur, kepalanya terantuk glondongan yang lumayan besar, dia tiba2 merasa pusing-diam beberapa lama, dan ajaibnya saat itu juga dia memahami semua kebodohannya dan tahu bagaimana dia harus berubah. "Terimakasih Tuhan", katanya.
Dia berpikir untuk memulai hidup 'baru'nya esok pagi, saat kerja dimulai.
Dia tidak ingin bilang siapa-siapa.

Keesokan paginya, semua benar-benar berubah. Dia tidak lupa menutup kran pompa, sehingga tampaklah Pedro seperti orang gila berbugil ria berteriak-teriak karena matanya kemasukan busa sabun, air dari tandon berhenti saat dia sedang mencuci muka.
Sebelum dia buka pintu untuk Perez, dia pastikan ternak-ternak tetap di halaman dalam agar nanti tidak ikut keluar saat truk berangkat. Akibatnya, dodge yang dikendarai Perez seperti kendaraan yang tak berdosa, ngebut dan langsung menabrak pintu kayu yang masih tertutup, Perez pun pingsan di depan setir.
Maria yang megira hewan2 sudah keluar, mulai mencuci, namun tiba-tiba dia dan ember2nya ditubruk sapi-sapi yang malah masuk ke halaman dalam.
Hector kebingungan mencari pisau, sutil, dan wajan yang sudah tak ada lagi di 'tempat'nya...semua marah dan menyalahkan Sopranino.

Sopranino pun kebingungan dengan kemarahan orang-orang. "Ada apa ini Tuhan?", bisiknya dalam hati, dan tentu saja dia tetap tidak paham sebab otaknya memang perlu tertimpa balok sekali lagi.

Di sebuah distrik kecil selatan Buenos Aires, di zaman Litte Missy dan Tuan Baron, untuk ke dua kalinya, tercipta sebuah keramaian pagi-pagi.