Tuesday, September 25, 2007

Oil Shale


Kebutuhan akan energy fosil meningkat, sedangkan cadangan minyak turun terus. Tiga tahun yang lalu, pemerintah AS secara resmi menyatakan suatu bentuk sumber energi baru sudah dianggap siap untuk ditambang, bukan minyak, bukan pula batubara.

Sumber ini disebut sbg Oil Shale, gabungan kata minyak-serpihan batuan. Oil shale seringkali disebut sebagai "rock that burns", tetapi is bukanlah batu bara.

Mengapa oil shale tidak bisa disebut sebagai batubara? Satu hal yang penting, oil shale merupakan kombinasi antara kerogen (senyawa penyusun utama minyak bumi) dan batuan karbonat. Kerogen adalah senyawa HC ber massa molekul yang tinggi, dengan rumus molekul C215H330O12N5S, sedangkan batubara grade tinggi memiliki rumus molekul C240H90O4NS. Ini menunjukkan bahwa rasio H:C untuk oil shale jauh lebih tinggi dibanding rasio tsb pada batubara. Energy density dari batubara sekitar 6.67 kW-h/kg, sedangkan oil shale memiliki level yang lebih rendah, yaitu 1.03 kW-h/kg. Dibandingkan minyak bumi, oil shale dan batubara memiliki kemiripan dalam soal emisi, keduanya mengandung sulfur dan nitrogen yang relatif tinggi.


Seberapa besar sumber energy ini bisa dikeruk? Ahli geologi Amerika mengklaim sumber energy ini tersedia sebanyak 2.6 trilyun barrel di muka bumi, dengan lebih dari 75%-nya berada di daratan Amerika. Bandingkan dengan minyak bumi dengan proven reserves hanya tinggal 1.3 trilyun barrel. Meskipun konversi oil shale ke BBM memerlukan proses yang lebih rumit dan mahal, namun dengan jumlah sebesar itu, diperkirakan oil shale dapat memperpanjang 'kehidupan' selama beberapa ratus tahun setelah minyak bumi benar-benar habis.
Karena oil shale berasal dari kerogen yang memadat, maka pemanfaatannya dapat dilakukan dengan 'mencairkannya' dengan pemanasan, kemudian mengekstraknya ke permukaan sebagaimana sumur2 minyak.



Langkah yang telah dikembangkan yaitu:
1. menyiapkan area injeksi panas (untuk mencairkan oil shale) dan area ekstraksi (penyedotan) yang terpisah
2. melakukan pengeboran beberapa lubang untuk pemanasan dengan kedalaman sekitar 200 m (lokasi pengendapan oil shale)
3. memasukkan tubing2 pemanas ke dalam lubang2 tersebut, dengan suhu mencapai 700 F (370 C). Proses pemanasan diperkirakan membutuhkan waktu selama 8 bulan - 4 tahun, bergantung pada jenis dan luasnya lokasi cadangan
4. menarik oil shale yang telah mencair ke permukaan dengan menyedotnya menggunakan pompa
5. minyak mentah yang diperoleh siap diolah di kilang2


Sejauh ini, pihak kementrian pertambangan amerika telah menjadikan proyek ini sebagai salah satu prioritas ekstraksi energi yang akan dikembangkan.


Bagaimana Indonesia ??


3 comments:

Anonymous said...

Good words.

Anonymous said...

Thanks sdh menjelaskan dgn jelas & padat Pak. Dalam waktu singkat, AS berhasil mengembangkan teknologi shale oil yg kemudian mjd (salah satu) penyebab anjloknya harga minyak konvensional saat ini (2015). Waw.

pret said...

Tulisan tahun 2007, saya baru baca 2015. Terimakasih