Thursday, May 04, 2006

Merapi


Koran-koran lokal menulis, bahwa paling tidak dalam minggu2 ini, Merapi akan meletus, dan Sultan sudah menyiapkan ribuan kantong mayat (upaya antisipatif yang menakutkan).
Merapi, sejak 1548 sudah meletus 68 kali (saya yakin ini jumlah yang sempat terhitung). Letusan pada 1930 menewaskan 1400 orang (herannya masih ada saja yang tinggal di desa2 itu sampai sekarang, dalam artian: perasaan orang2 situ dah pada punah gitu loh?). Letusan terakhir 2002.

Bagaimana korban ga jadi banyak, kalau orang2 lereng berpantangan:
- membunyikan kentongan
- mengacungkan tangan nunjuk2 merapi
- menyebut atau membicarakan
kalau letusan terjadi.

Sultan pun jadi rada senewen, akhirnya beberapa hari yang lalu Beliau sendiri yang 'naek' buat menyampaikan senewennya itu di depan rakyatnya : Jangan terlalu percaya mitos...katanya.

Dan inilah yang membuat saya terhenyak, sedikit banyak terkesima...bukankah selama ini feodalisme dalam sistem monarkis, dimana-mana dibangun dari pondasi takhyul2 yang mengikat (atau menjebak?) rakyat yang dengan sukarela : mikul ndhuwur mendhem njero, swargo nunut neroko katut, pada para junjungannya. Dalam artian bahwa pihak penguasa saat itulah yang memiliki otoritas terhadap pemeliharaan takhyul, demi ketaatan, demi stabilitas.

- "sebaik-baik" alat perang ialah senjata yang juga mematikan empunya

Untunglah hingga hari ini Merapi tak juga meletus. Setidaknya tidak ada bukti pihak mana yang mati...

No comments: