Friday, June 23, 2006

Dari Sebuah Pertandingan Piala Dunia


Dalam sebuah pertandingan di Piala Dunia, sepak pojok siap dilakukan oleh pemain Spanyol. Pemain-pemain Tunisia memenuhi kotak. Posisi: Spanyol 2 Tunisia 1. Penonton bersorak, penonton terdiam, penonton berdoa.

Orang-orang Tunisia mengangkat kedua tangan. Para pendukung Spanyol membuat tanda salib di dada. Mereka meminta pertolongan Tuhan demi sebuah permainan sepakbola. Mereka memohon pada Tuhan untuk hal yang berlawanan. Mereka minta apa yang mereka mau. Mereka masukkan Tuhan Yang Satu ke kantong baju masing-masing.

Berapa jumlah dari mereka yang meminta kemenangan? Hampir semua saya kira. Kita begitu sering meminta pada-Nya sesuatu demi kemenangan kita, dalam setiap kompetisi, dalam persaingan-persaingan, judi dan perlombaan. Bukankah kemenangan kita berarti kekalahan orang lain? Bukankah orang-orang lain bisa saja memanjatkan doa yang sama? Apakah ini bukan berarti kita sudah mengempit Tuhan di antara jari-jari, dan Tuhan kita bukanlah Tuhan orang lain, Tuhan kita masing-masing adalah Tuhan pribadi?

Saat kita membuat ‘permintaan’ menjadi sebuah ‘keberpihakan’, kita hitung-hitung kemana Tuhan bakal berpihak. Kita hanya tahu soal kemenangan, tidak ada jalan keluar yang lain. Dan saat kita gagal, kita bertanya-bertanya, ‘mengapa masalah sesepele ini saja Dia tidak mengerti? Bukankah hidup saya sudah begitu menderita, namun Engkau tak juga mau memberi sedikit bahagia? ‘. Kita bukan bertanya. Kita protes…

-bahkan kepada Tuhan kita egois.

Bukankah lebih baik mereka memanjatkan doa kepada Yang Kuasa dengan, “Ya Tuhan, berikanlah aku ketegaran saat harus menerima kekalahan..”. "Ya Allah luruskan hatiku, imanku, penghambaanku kepada-Mu dalam setiap cobaan, dalam setiap kesedihan, dalam setiap kebahagiaan..".

Saat kemenangan kita berarti kekalahan orang.

Saat kebahagiaan kita berarti kedukaan pihak lain.

Saat kita begitu takut kalah dan begitu ingin menang.

Saat kita letakkan Tuhan di kalung-kalung, kemudian kita adu dengan kalung-kalung orang, dan kita menunggu-nunggu siapa yang akan dikalahkan.

Saat kita jadikan Tuhan sebagai ‘pembantu’ dalam pemenuhan nafsu-nafsu pengakuan.

Maka semua adalah jalan buntu….


Menit sembilah puluh lebih, peluit ditiup. Pertandingan usai.

Spanyol unggul, 3 melawan 1..

Tuhan, ampuni keserakahan kami….

No comments: