Saturday, June 17, 2006

Dua ditarik


Siapa yang sanggup mempertaruhkan hidupnya dengan begitu berani bagi nyawa orang lain? Siapa dia yang memberikan nyawanya, satu-satunya yang ia punya bagi sesuatu yang bukan miliknya? Siapa yang begitu ikhlas menyerahkan dirinya atas nama kemanusiaan, yang menurut banyak orang sekarang adalah sesuatu yang tak pernah orisinal?

Dua hari yang lalu, dua orang relawan jatuh. Dalam bunker saat ditikam panas bersuhu 400C, dia hanya merasa lapar dan kedinginan, cerita terakhir yang ia kirimkan dari gelapnya terowongan. Tak terbayangkan saat timbunan material membuat liang persembunyian itu kian memanas, hingga menghanguskan organ-organ. Dalam gelap. Dalam ketidakpastian, hingga saat kematian ditentukan..

Apa sebenarnya yang kamu cari, sahabat?

Benarkah dunia masih membutuhkan sentuhan platonis manusia atas sesamanya?

Benarkah ada ketulusan yang tak habis-habisnya bagi nasib orang lain?

Benarkah filantropi masih memberi makna dalam pragmatisme orang-orang yang melihatnya sebagai sebuah kekonyolan, pertunjukan badut-badut yang bahkan tidak membuat mereka tersenyum?

Benarkah manusia masih bisa tersentuh atas sebuah cerita tentang kemanusiaan?

Sahabat, dalam lubuk hati yang terdalam, selalu bisa kau ketuk aku dengan pemaknaan. Dengan keparipurnaan. Bahwa hidup memang seharusnya berarti bagi sesama. Hidup bukan masalah panjang pendek, namun hidup adalah masalah pencerahan. Dunia bukan sekedar banyak sedikit yang kita punya, namun ini tentang berapa jumlah nyawa yang ingin, dapat, dan telah kita bantu. Hidup bukan sekedar mulut dan perut, bukan nafsu pribadi, tetapi tentang cinta, tentang eksistensi kita; bahwa buih harus berjalin untuk membuat gelombang…dan hanya dengan banyak gelombang baru kita bisa mengangkat jangkar dan berlayar dalam samudera pangestu.

Dua bulan lagi kau akan diwisuda, saudaraku.Dan tidak mungkin kau hadir. Karena itu memang tidak perlu lagi, sebab sebuah akhir yang paripurna, akhir yang penuh makna, akhir dalam syahid yang setiap orang ingin punya, adalah wisuda dari Yang Maha Pirsa.

Tidak juga perlu kau jawab pertanyaan-pertanyaan itu, saudaraku. Biarkan kami malu dalam dunia kami, yang kami penuhi dengan cermin-cermin pemuasan diri. Sungguh, hari ini kami malu untuk berdiri sejajar denganmu.

Tuhan besertamu.

sabda-Mu
gempa jantung-Ku

dan nama
yang berulang kali
kudengar
gaung di
dasar
palung

gugurlah
batu-batu
yang susun
dinding hati

runtuhlah
genting-genting
sirap penutup
atap sajak-Mu

dan di ujung senja
cekam pukau-Mu:
gentar isakku

-terimakasih untuk titiknol

No comments: