Sunday, June 18, 2006

Indigo Children: something behind their eyes


Pernah dengar sebutan Indigo Children?

Karena penasaran, akhirnya saya cari juga beberapa penjelasan tentang hal ini. Indigo children merupakan konsep psikologi baru yang awalnya ditemukan/digunakan oleh pasangan suami-istri Tober dan Caroll, melalui buku mereka The Indigo Children: The New Kids Have Arrived. Tober dan Caroll memakai istilah Indigo yang menunjukkan warna ‘aura’ umum yang muncul dari diri para indigo children.

Kemudian bagaimana sebenarnya indigo children itu? Buku tsb menjelaskan bahwa “indigo children adalah anak laki-laki maupun perpmpuan yang menunjukkan atribut2 psikologis yang baru dan sangat jarang ditemukan, mereka memnunjukkan tingkah laku yang berbeda”. Atribut2 psikologis yang dimaksud al: memiliki kemampuan/pengembangan bidang teknologi yang sangat baik, tidak penakut, empatik, telepatik, memiliki kebjaksanaan yang jauh lebih maju dibanding anak seusianya, berintuisi tinggi, bisa mengedalikan diri. Yang jelas, mereka adalah anak-anak yang dilahirkan dengan bakat spiritual yang tinggi. Mereka adalah individu2 yang berpola pikir sangat multidimensional. Jika para jenius terdahulu dianggap telah diberi IQ yang baik, maka para indigo ini adalah mereka yang dilahirkan dengan Spiritual Quotient yang begitu tinggi.

Seringkali bakat ini disalah artikan sebagai varian dari gangguan mental “Attention-Deficit Disorder’, yang menunjukkan kekurangan kemampuan “tanggap” seseorang terhadap “aksi” yang ia terima dari lingkungan sosialnya. Penyakit ini ditunjukkan oleh sifat ketidakpedulian akan suatu hal, serta sangat distraktif. Pada beberapa kesempatan, tingkah laku ini (dengan di-salahpersepsi-kan) memang sering dijumpai dalam diri seorang indigo.

Menurut Tober dan Caroll, ada 4 kategori bakat umum yang ada pada diri seorang indigo, yaitu: humanitarian, konseptual, artistic, dan terakhir, sifat inter-dimensional (spiritual). Dari sudut pandang sejarah, lahirnya banyak individu2 indigo beberapa decade terakhir di amerika dianggap sangat berkaitan dengan lahirnya “Flower Generation” di akhir 1960-an. Dengan paradigma ‘generasi bunga’ yang anti perang dengan slogan2: 'Peace, not War', 'Make Love, Not War', 'Give Peace a Chance', pemerintah AS saat itu benar-benar berusaha menekan aktivitas mereka, sehingga tidak sedikit dari mereka yg ditahan. Dengan paradigma ini, “flower generation” yang nota bene juga ambil bagian pada decade “baby boomers”, dianggap telah menurunkan bakat-bakat khusus indigo tersebut bagi generasi-generasi berikutnya. Jika pada tahun 1960-an ‘bunga-bunga’ itu mulai tumbuh, maka pada decade ini semuanya bermekaran. Menurut saya, konsep ini adalah suatu bentuk evolusi spiritual yang (mungkin) suatu saat nanti dapat dijelaskan dari sudut pandang biomolekuler DNA manusia.

Karakteristik dari indigo children yang sering dijumpai:

  • Mereka adalah individu2 yang royal.
  • Mereka merasa “layak/deserving untuk ‘ada’”.
  • “Self-esteem” bukanlah hal aneh pada diri mereka. Mereka sering membicarakan tentang “siapa mereka?” pada orangtuanya.
  • Mereka selalu merasa ’kesulitan’ terhadap ‘otoritas’ dari pihak lain.
  • Mereka ‘malas’ pada hal-hal yang menunjukkan ‘kewajaran’ pada lingkungan sosialnya. Mengantri adalah sesuatu yang tidak mereka sukai.
  • Kuferustasian pada system yang telah terbangun/establish, dan lebih mementingkan cara lain yang lebih kreatif.
  • Selalu berusaha mencari ‘jalan lain’ yang lebih baik pada segala hal (memiliki sifat tak-kompromi pada semua semua system yang ada).
  • Seringkali terlihat sangat anti-sosial, kecuali jika berada pada komunitas yang sama dengannya. Mereka merasakan ketidaknyamanan jika berada pada lingkungan social yang tidak mengesankan “kesadaran/consciousness” seperti dirinya. Sekolah adalah tempat yang tidak begitu menyenagkan baginya.
  • Mereka sama sekali tidak terpengaruh dengan trik2 ancaman atas kesalahan mereka, seperti kalimat berikut:"Wait till your father gets home and finds out what you did".
  • Mereka sangat ‘paham’ akan diri mereka dan tidak malu untuk menunjukkan apa kepentingan dan kebutuhannya
  • Pandangan mata yang menunjukkan kebijaksanaan
  • Kemampuan empati yang sangat baik, namun tak jarang menunjukkan yang sebaliknya
Meskipun demikian, tidak sedikit para ahli yang mengkritik konsep ini. Karena karakteristik2 tersebut secara umum juga dapat dilihat dalam diri anak normal lainnya, sehingga ‘bakat’ ini tidak bisa dikatakan unik.

Sedangkan para pendukung teori ini meyakininya, salah satunya melalui uji fotografi “Kirlian” untuk mengamati warna aura mereka, serta dengan melakukan interview thdp para individu2 tersebut. Mereka berpendapat bahwa dalam diri indigo children telah berlangsung pengaktifan beberapa bagian tertentu dari DNA tubuhnya, dimana dalam diri orang normal hal tsb tidak terjadi.

Konsep lain yang mirip, ditemukan juga di Yunani. Seorang jurnalis di Athena (Kostas Hardavelas) menggambarkan bahwa beberapa anak yang lahir pada bulan April 1983 di Yunani ternyata diketahui memiliki IQ yang tinggi, pengalaman spiritual tertentu, serta beberapa tanda lahir yang mirip. Fourakis, seorang penulis Yunani, meyakini bahwa April Kids (sebutan bagi anak2 tersebut) punya ‘misi’ tertentu bagi masa depan umat manusia.

Saya tidak punya banyak komentar. Yang jelas saya kira selalu ada makna berbeda dibalik semuanya, tentang yang tampak, yang abstrak, impian-impian, misi, dan kepercayaan.

Ngomong2 mungkinkah saya juga adalah seorang Indigo, karena saya suka pada lagu ini ;p :

"we would stay and respond and expand and include and allow and forgive
and
enjoy and evolve and discern and inquire and accept and admit
and divulge and
open and reach out and speak up

we'd open our arms we'd all jump in we'd all coast down into safety nets
we would share and listen and support and welcome be propelled by passion
not
invest in outcomes we would breathe and be charmed and amused by difference
be gentle and make room for every emotion

This is utopia
this is my utopia
This is my ideal my end in sight
Utopia this is my utopia
This is my nirvana
My ultimate..
"

(Utopia by Alanis Morissette)

-dari berbagai sumber.


2 comments:

Anonymous said...

Saya ingin mengomentari apa dari artikel yang telah dikeluarkan. bahwa semuanya itu tidak benar anggapan bahwa anak indigo dianggap buruk oleh kaum sosial lainnya. seperti tidak mau sekolah. buktinya saya sendiri sebagai anak indigo bisa masuk dalam lingkungan sosial dan lingkungan teman-teman saya sekolah. memang ada hal yang tidak bisa dipahami terhadap anak indigo oleh banyak orang. tapi saya selalu menganggap bahwa saya bukan anak indigo. melainkan anak yang diberikan kelebihan oleh tuhan. dan perlu diketahui bahwa anak-anak yang punya kelebihan jangan malah dihindari tetapi harus didekati karena posisi mereka sebenarnya terancam. seperti halnya saya. saya selalu diselamatkan oleh teman-teman saya ketika saya diserang oleh mahkluk halus. dan satu hal lagi bahwa anak indigo juga manusia namun mereka punya tugas di dunia lebih berat daripada manusia biasa. nanti anda akan tahu beberapa waktu dekat lagi jikalau anda masih hidup di jaman yang sudah tidak stabil, yang anda butuhkan adalah pertolongan dari anak-anak indigo. satu hal lagi jikalau seorang anak indigo kelihatannya nakal atau bersikap over, sebenarnya mereka hanya menutupi mereka sendiri supaya tidak disebut sebagai anak indigo. itu juga akibat tekanan dari luar. yang perlu saya tekankan lagi bahwa pada waktu yang akan datang manusia membutuhkan bantuan anak indigo. trims.

Anonymous said...

Saya Mesi,
Setelah banyak mempelajari tentang isu anak Indigo, saya pun mengidentifikasikan diri saya juga adalah anak Indigo dengan karakter ataupun atribut yang telah disebutkan. Masa-masa kecil saya sangat sukar dan saya tinggal bersama keluarga yang 'abusive' baik secara verbal maupun fisik. ketika menginjak bangku kuliah saya sempat mengalami depresi berat karena ditolak dalam pergaulan. Teman-teman menganggap saya 'freak' atau aneh karena saya terlalu 'hyper'. Saya kuliah di jurusan bahasa Inggris dan banyak diantara dosen-dosen mengira saya pernah belajar keluar negeri dengan mendengar aksen saya. Mereka tidak mengira kalau saya tidak pernah sekalipun keluar negeri. Kehidupan saya dirumah pun sangat berat. Banyak saudara mengira saya sinting dengan penglihatan dan mimpi-mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Hampir saya mencoba bunuh diri karena tidak tahan tekanan yang saya hadapi dan rasa tertolak di masyarakat. Meskipun secara fisik normal tapi jalan berpikir saya yang dianggap nyentrik dan non-konformis. tapi itulah saya sejak masih kecil tidak mau tunduk pada otoritas.
Masih sulit untuk menemukan komunitas sebaya yang bisa saling mendukung eksistensi anak Indigo. Mereka mengemban misi dari Sang Khalik akan tetapi terhimpit oleh society/masyarakat dan pada akhirnya mereka memilih untuk men-shut down kemampuan mereka.