Monday, January 16, 2006

Adore Bra, lift up your personality!


Saya dengar iklan dari tv di kamar sebelah, "Adore Bra, lift up your personality!". Tampaknya kalau tak salah membayangkan, iklan tsb adalah promo alat kecantikan, sejenis pakaian dalam bagi wanita, yg dapat memberikan efek pembesaran sepasang 'organ' tubuhnya. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan upaya2 semcam itu, hak asasi wanita tentunya untuk memperbesar maupun memperkecil bagian tubuhnya, saya sih tidak punya hak untuk melarang-larang dan juga tak berkeinginan untuk dukung mendukung, terserah mereka lah. Yang sedikit mengganjal bagi saya adalah semboyan pariwara tadi, "lift up your personality!". Apakah ada keterkaitan antara personality/kepribadian dengan ukuran suatu organ tubuh? Apakah wanita yang ber'itu' besar menunjukkan jati dirinya sebagai wanita yang berkepribadian?

Memang saya pernah dengar, di abad-abad kuno, wujud wanita 'seharusnya' menunjukkan posisinya sebagai ibu, perlambang kesuburan, jadi pikir saya ukuran organ-organ yang memang mendukung posisi tersebut tentu saja kemudian menjadi penting. Tetapi itu hanya perlambang kesuburan, personifikasi wanita sebagai bumi yang menyayangi segenap manusia. Dan jelas, bukan masalah kepribadian, karena personality adalah masalah batin, bukan lahir.

Damardjati menulis: Lahir dan batin tidak untuk dipertentangkan, hanya saja kenyataan memperlihatkan bahwa hidup yang serba kelahiran itu cenderung merajalela, padahal lahir itu hanyalah alat untuk mengejawantahkan cahaya batin yang melingkupi relung hati, sehingga bisa membumi, melahirkan Heaven on Earth, surga dunia dan akhirat, bukan malah sebaliknya. Bagaimana bisa fisik menentukan kepribadian? sebab kalau ini benar, betapa tidak mungkinnya pandawa menang atas kurawa, betapa omong kosongnya kisah-kisah di kitab suci.

Secara tidak sadar, melalui berbagai media, kriteria kebagusan fisik telah meracuni pikiran manusia, karena dia dibangun dan diterjemahkan secara global, bahkan mungkin suatu saat tidak ada lagi kecantikan/kebagusan fisik yang sifatnya individual. Kalau semua common sense menjadi nilai objektif, maka penggerak roda-roda media yang notabene para pemilik modal (baca:kaum kapitalis)adalah mereka yang memiliki otoritas (secara riil) terbesar untuk mengarahkan nilai-nilai objektif itu. Dan tanpa sadar kita menerimanya. Dan sekarang, yang mulai mem-booming adalah kapitalisasi tubuh (baca: seksualitas), semua hal dinilai dengan simbol-simbol seks, dari handphone, permen, pompa air, hingga seperi yang saya dengar tadi pagi, soal kepribadian.

Keterkaitan logis? itu tidak penting! bilang saja, "kalau 'itu' saya gede, maka saya tambah PD, kalau saya tambah PD, insyaAllah saya bisa menjadi perempuan yang disenangi banyak orang". Sesungguhnya ada dekadensi di sini, betapa kita menepiskan penyadaran kita bahwa dalam kapitalisme keuntungan adalah segalanya, bukan masalah pembangunan moral atau citra hidup, bukan masalah kesehatan atau religiusitas, dan bukan masalah mode atau lifestyle. Itu semua tidak penting, yang terutama jelas laba, hal-hal lain adalah tugas media untuk melakukan propaganda untuk menunjangnya.

"Adore Bra, lift up your personality!"...kapitalisme tampak terang-terangan menunjukkan taringnya..sayang sekali kurang berseni, padahal menipu pun butuh sentuhan estetika...

No comments: